Jumat, 01 November 2013

Sholat Tengah Malam ( Qiyamul Lail )



Allah SWT telah memerintahkan kepada RasulNya agar menjalankan sholat malam, dan seluruh ummat islam dianjurkan untuk mencontoh  perilaku beliau. Hukum sholat malam adalah sunnah Muakkadah atau sunnah wajibah (sunnah yang hampir wajib) yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasul SAW dan para sahabatnya.

I.  Keutamaannya.
a.        Orang yang melakukannya akan mendapatkan kedudukan yang terpuji dimata Allah SWT.
“ Dan dari sebagian malam itu gunakanlah untuk bertahajjud sbg sholat sunnat bagimu, semoga Robbmu akan membangkitkanmu pada kedudukan yang terpuji.”
b.        Orang yang menjaga sholat malam berhaq dan layak mendapat kebaikan serta rahmat-Nya.
“ Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam kebun-kebun yang dikelilingi mata air. Mereka menerima pemberian Tuhan sebab dahulu sebelum itu mereka selalu berbuat kebaikan. Bahkan dahulu mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar”
c.        Dipuji oleh Allah dan dimasukkan dalam golongan hamba-hamba yang berbakti.
“ Dan hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih ialah mereka yang berjalan di bumi  dengan  merendahkan  diri  dan  apabila  diganggu oleh
pembicaraan orang-orang bodoh, mereka hanya menjawab dengan ucapan yang baik. Mereka itu semalaman beribadat kepada Allah, baik dengan sujud maupun berdiri.”
      d.   Diakui keimanannya oleh Allah SWT.
    “ Sesungguhnya yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami itu ialah ……… Mereka selalu merenggangkan pinggangnya dari tempat tidur (tidak banyak tidur) …
      e.   Diistimewakan oleh Allah dari orang-orang yang tidak melakukannya.
     “ Adakah orang yang berbakti pada Allah diwaktu malam, bersujud serta berdiri dan takut pada siksa akhirat dan mengharap rahmat TuhanNya ituakan sama dengan yang tidak demikian? …”
       f.    Masuk surga dengan selamat sejahtera.
 Haditsnya : …, sholatlah diwaktu malam dikala orang-orang sedang tidur, pasti kamu akan masuk surga dengan selamat sejahtera.  (HR. Turmudzi)
g.       Sebagai penebus kejelekan-kejelekan,  pencegah dosa serta dapat 
      menghalaukan penyakit dari badan.
Haditsnya: “Kerjakanlah sholat malam, sebab itu adalah kebiasaan orang-orang sholeh sebelummu dahulu, juga suatu jalan untuk mendekatkan diri pada Allah, pula sebagai penebus kejelekan-kejelekanmu, pencegah dosa serta dapat menghalaukan penyakit dari badan.
       h.  Memuliakan orang beriman.
Jibril datang pada Rasul SAW, lalu berkata :
“Ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mu’min itu ialah sholat waktu malam dan kebesarannya ialah sedikit butuhnya kepada sesama manusia”
        i.  Dicintai Allah serta disambut dengan tertawa dan gembira.
“ Tiga golongan manusia yang dicintai oleh Allah serta disambut dengan tertawa dan gembira yaitu :
a. …..
b. seorang yang mempunyai istri yang cantik serta tempat tidur yang lunak, lalu ia   bangun untuk sholat malam, ….

II.                  Tata Tertib Sholat Malam.

            Seseorang yang hendak melakukan sholat malam disunnatkan :
1.        Di waktu akan tidur, hendaklah ia berniat untuk bangun sholat malam.


2.        Berusaha menghilangkan kantuk dari wajahnya dikala bangun kemudian bersugi lalu melihat ke langit sambil berdo’a
3.        Sebaiknya shjolat malam dimulai dengan mengerjakan dua raka’at yang ringan dan selanjutnya boleh sholat dengan bacaan Qur’an yang disukai. “ Rasulullah SAW itu apabila bangun malam untuk sholat beliau memulainya dengan dua raka’at yang ringan”
4.        Hendaknya membangunkan keluarga.
5.        Hendaklah menghentikan sholat dulu dan kembali tidur bila terasa mengantuk sampai hilang kantuknya. “ Apabila seseorang darimu bangun malam untuk sholat kemudian terasa berat membaca Al  Qur’an hingga tidak disadarinya apa yang dibacanya itu, maka hendaklah ia tidur lagi “ (HR Muslim )
6.        Hendaknya jangan memberatkan diri.Sabda Rasul SAW : Kerjakanlah semua amal itu sekedar kekuatanmu. Demi Allah. Allah itu tidak akan jemu memberikan pahala sampai engkau sekalian jemu beramal “

III.       Waktunya.
Sholat malam dapat dikerjakan  dipermulaan, dipertengahan, atau dipenghabisan malam, asalkan sesudah menunaikan sholat isya.  Waktu yang paling utama  untuk melakukan sholat malam  ialah  sepertiga malam yang terakhir.
           Dari Abu Hurairah :
Robb kita azza wa jalla tiap malam turun kelangit dunia pada sepertiga malam yang terakhir. Pada saat  itu Allah berfirman :
“ Barang siapa yang berdoa kepadaKu pasti Kukabulkan, barang siapa yang memohon padaKu pasti Kuberi, dan barang siapa yang meminta ampun padaKu pasti Kuampuni.”
IV. Bilangan  Rakaatnya.
         Yang paling utama ialah menetapkan sholat malam secara terus-menerus
Sebanyak sebelas atau tiga belas rakaat.  Aisyah r.a. berkata :
“ Rasulullah s.a.w. tidak pernah menambah sholat malam itu, baik ketika bulan Ramadhan atau lainnya dari sebelas rakaat. Beliau sholat empat rakaat , jangan ditanya baik dan panjangnya, kemudian sholat lagi empat rakaat , jangan ditanya baik dan panjangnya lalu sholat juga tiga rakaat. Saya bertanya : “Ya Rasulullah , apakah Anda tidur sebelum berwitir?” Beliau s.a.w. menjawab:”Ya Aisyah , walau kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidaklah tidur.”
                                                            ( H.R. Bukhori dan Muslim )




Kesimpulan :
Melakukan sholat malam harus disertai dengan niat
dan  tekad yang kuat  sehingga terasa ringan dalam
melakukannya.
      
           






Manajemen Qolbu: Mengubah dengan Kekuatan Tauladan

(QS. As Shaaf 21:3)


Mudah-Mudahan kita semua tidak menjadi contoh keburukan bagi orang lain. Mudah-mudahan anak-anak kita tidak mencontoh perilaku buruk yang pernah khilaf kita, para orang tuanya lakukan. Dan mudah-mudahan pula anggota lingkungan masyarakat kita tidak menjadikan kita sebagai salah satu figur keburukan, akibat perilaku buruk yang kita lakukan.
Alangkah ruginya dalam hidup yang cuma sekali-kalinya ini dan orang lain meniru keburukan kita, naudzubillah. Ingatlah bahwa jika kita berperilaku buruk dan tidak bermoral, maka ketika orang berbicara, akan berbicara tentang keburukan kita. Apalagi jika orang lain mencontoh perilaku buruk itu, berarti kita juga akan memikul dosanya.

Namun seandainya justru orang atau masyarakat di sekitar kita yang berperilaku kurang baik, maka sudah sewajarnya bila kita menekadkan diri untuk mengubahnya menuju arah kebaikan. Lalu, bagaimana cara mengubah orang menjadi lebih baik secara efektif ?
Salah satu caranya adalah dengan kekuatan suri tauladan atau menjadi contoh terlebih dahulu. Jika ingin mengubah orang lain, maka pertanyaan pertama yang harus dilakukan adalah sudah pantaskah kita menjadi contoh kebaikan akhlak bagi orang lain? Sudahkah kita menjadi suri tauladan bagi apa yang kita inginkan ada pada diri orang lain itu?

Rasulullah SAW gemilang menyeru ummat ke jalan-Nya, mengubah karakter ummat dari zaman kegelapan menuju jalan penuh cahaya yang ditempuh hampir 23 tahun. Salah satu pilar strategi keberhasilannya adalah karena Rasul memiliki kekuatan suri tauladan yang sungguh luar biasa. Yakinlah bahwa cara paling gampang mengubah orang lain sesuai keinginan kita adalah dengan cara menjadikan diri kita sebagai media atau contoh yang layak ditiru.

Karenanya, jangan bercita-cita memiliki anak yang santun, lembut, kalau kesantunan dan kelembutan itu tidak ada dalam diri orang tuanya. Jangan bercita-cita punya anak yang tahu etika, kalau cara mendidik yang dilakukan orang tuanya tidak menggunakan etika. Sangat mustahil akan terwujud ketika para pimpinan ingin anggotanya berdisiplin, padahal disiplin itu bukan bagian dari diri pimpinannya. Contoh sederhana, mengapa P4 gagal menjadi pedoman hidup yang jadi acuan bangsa Indonesia ? Karena tidak ada contoh tauladannya. Siapa sekarang pemimpin bangsa ini yang paling Pancasilais ? Susah mencarinya. Seumpama mata air di pegunungan yang sudah keruh tercemar. Kalau dari sumbernya sudah keruh, walau yang di bawah di bening-beningkan juga tidak akan bisa. Di hilir menjadi keruh karena di hulunya juga keruh.

Orang tua ingin anak-anaknya tidak merokok padahal ternyata orang tuanya perokok berat, bagaimana mungkin ? Para guru ingin murid-muridnya tidak mengganja, padahal ganja itu awalnya dari rokok, dan ternyata para guru merokok di depan murid-muridnya. Jangan-jangan kita yang menjerumuskan mereka ?

Di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta ada sebuah contoh menarik tentang mengapa anak-anak menjadi seorang perokok atau pengganja. Di salah satu dindingnya tergantung sebuah potret seorang ibu yang sedang menimang-nimang bayinya, dan ternyata si ibu ini melakukannya sambil merokok. Tidak bisa tidak. Perilaku si Ibu ini merupakan contoh bagi si bayi yang ada dipangkuannya.

AH, sahabat. Sayang sekali kita terlalu banyak menuntut pada orang lain, padahal sebenarnya yang paling layak kita tuntut adalah diri kita sendiri. Para guru bertanggung jawab kalau para murid akhlaknya menjadi jelek. Karena mungkin akhlak Pak Gurunya dan Akhlak BU Gurunya kurang baik. Lihat moral para mahasiswa yang bejat, kumpul kebo, mengganja, dan sebagainya. Tidak usah heran, lihatlah akhlak para dosennya, moral para dosennya yang mungkin tidak jauh berbeda. Santri di pondok-pondok jadi turun ibadahnya, jelek akhlaknya, jarang tahajutnya, lihat saja akhlak para ustadnya. Di kantor karyawan sering datang terlambat, kinerjanya tidak optimal, kasus kehilangan meningkat, lihat saja akhlak pimpinannya. Pimpinan mencuri, karyawan pun akan mencontohnya dengan mencuri pula.

Oleh karena itu, pertanyaan yang harus selalu kita lakukan adalah sudahkah diri kita ini menjadi contoh kebaikan atau belum ? Omong kosong kita bicara masalah disiplin atau masalah aturan, kalau ternyata kita sendiri belum membiasakan diri untuk berdisiplin atau taat aturan. Sehebat apapun kata-kata yang terlontar dari mulut ini, perilaku yang terpancar dari pribadi kita justru akan jauh berpengaruh lebih dahsyat daripada kata-kata.

Bersiap-siaplah untuk menderita bagi seorang ayah yang tidak bisa menjadi contoh kebaikan bagi anak-anaknya. Bersiaplah untuk memikul kepahitan bagi seorang ayah yang tidak dapat menjadi suri tauladan bagi keluarga dan keturunannya. Bersiap-siaplah untuk menghadapi perusahaan yang ruwet dan rumit kalau seorang atasan tidak menjadi contoh bagi karyawannya. Bersiaplah menghadapi kepusingan jikalau seorang pimpinan tidak menjadi contoh bagi yang dipimpinnya.

Ingat, jangan mimpi mengubah orang lain sebelum diawali dengan mengubah diri sendiri. Allah SWT, dengan tegas menyatakan kemurkaannya bagi orang yang menyuruh berperilaku apa-apa yang sebenarnya tidak ia lakukan.
"Sungguh besar kemurkaan di sisi ALLAH bagi orang yang berkata-kata apa-apa yang tidak diperbuatnya" (QS Ash Shaaf 21 : 3).
Bukan tidak boleh berkata-kata, tapi kemuliaan akhlak pribadi akan jauh lebih memperjelas kata-kata kita.

Dan menjadi contoh juga tidak akan efektif kecuali contoh itu penuh keikhlasan. Karena ada pula yang memberi contoh tapi riya, ingin dipuji, ingin dinilai orang lain hebat, ingin dihormati, dan ingin dihargai. Kalau tujuannya seperti ini, tidak akan berarti apa-apa. Hati hanya bisa disentuh oleh hati lagi. Contoh yang tidak ikhlas tidak akan dicontoh oleh orang lain. Contoh yang karena pujian, over acting tidak akan masuk kepada hati orang lain. Contoh haruslah dilakukan dengan ikhlas. Jangan berharap atau bahkan berpikir untuk dipuji dan dihormati.

Nah Sahabat.

Selalulah tanya pada diri ini contoh apa yang akan kita tunjukkan dalam hidup yang sekali-kalinya ini. Apakah contoh tauladan kebaikan ? Ataukah malah sebaliknya contoh tauladan keburukan ? Naudzhubillah.

Apakah contoh pribadi yang matang ataukah malah pribadi yang kekanak-kanakan? Karenanya menjadi suatu keharusan bagi seorang ayah, seorang ibu, seorang pemimpin, dan bagi siapa pun untuk memberikan contoh terbaik dari dirinya. Hidup cuma sekali dan belum tentu panjang umur. Akan menjadi suatu yang sangat indah jikalau kenangan dan warisan terbesar bagi keluarga dan lingkungan sekitar adalah terpancarnya cahaya pribadi kita yang layak di tauladani oleh siapa pun. Semuanya tiada lain adalah buah dari mulianya akhlak.

Etika membaca Al-Qur"an



Etika Membaca Al-Qur'An:
1.       Sebaiknya orang yang membaca Al-Qur'an dalam keadaan sudah berwudhu, suci pakaiannya, badannya dan tempatnya serta telah bergosok gigi.
2.       Hendaknya memilih tempat yang tenang dan waktunya pun pas, karena hal tersebut lebih dapat konsentrasi dan jiwa lebih tenang.
3.       Hendaknya memulai tilawah dengan ta`awwudz, kemudian basmalah pada setiap awal surah selain selain surah At-Taubah. Allah berfirman yang artinya:
"Apabila kamu akan membaca al-Qur'an, maka memohon perlindungan-lah kamu kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk". (An-Nahl: 98).
4.       Hendaknya selalu memperhatikan hukum-hukum tajwid dan membunyikan huruf sesuai dengan makhrajnya serta membacanya dengan tartil (perlahan-lahan). Allah berfirman yang artinya:
"Dan Bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan". (Al-Muzzammil: 4).
5.       Disunnatkan memanjangkan bacaan dan memperindah suara di saat membacanya. Anas bin Malik pernah ditanya:
Bagaimana bacaan Nabi (terhadap Al-Qur'an? Anas menjawab: "Bacaannya panjang (mad), kemudian Nabi membaca "Bismillahirrahmanirrahim" sambil memanjangkan Bismillahi, dan memanjangkan bacaan ar-rahmani dan memanjangkan bacaan ar-rahim". (HR. Al-Bukhari).
Dan Nabi juga bersabda:
"Hiasilah suara kalian dengan Al-Qur'an". (HR. Abu Daud, dan dishahih-kan oleh Al-Albani).
6.       Hendaknya membaca sambil merenungkan dan menghayati makna yang terkandung pada ayat-ayat yang dibaca, berinteraksi dengannya, sambil memohon surga kepada Allah bila terbaca ayat-ayat surga, dan berlindung kepada Allah dari neraka bila terbaca ayat-ayat neraka. Allah berfirman yang artinya:
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran." (Shad: 29).
Dan di dalam hadits Hudzaifah ia menuturkan:
"......Apabila Nabi terbaca ayat yang mengandung makna bertasbih (kepada Allah) beliau bertasbih, dan apabila terbaca ayat yang mengandung do`a, maka beliau berdo`a, dan apabila terbaca ayat yang bermakna meminta perlindungan (kepada Allah) beliau memohon perlindungan". (HR. Muslim).
Allah berfirman yang artinya:
7.       Hendaknya mendengarkan bacaan Al-Qur'an dengan baik dan diam, tidak berbicara. Allah berfirman yang artinya:
"Dan apabila Al-Qur'an dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu men-dapat rahmat". (Al-A`raf: 204).
8.       Hendaklah selalu menjaga al-Qur'an dan tekun membacanya dan mempelajarinya (bertadarus) hingga tidak lupa. Rasulullah bersabda:
"Peliharalah Al-Qur'an baik-baik, karena demi Tuhan yang diriku berada di tangan-Nya, ia benar-benar lebih liar (mudah lepas) dari pada unta yang terikat di tali kendalinya". (HR. Al-Bukhari).
9.       Hendaknya tidak menyentuh Al-Qur'an kecuali dalam keadaan suci. Allah telah berfirman yang artinya:
"Tidak akan menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan". (Al-Waqi`ah: 79).
10.   Boleh bagi wanita haid dan nifas membaca al-Qur'an dengan tidak menyentuh mushafnya menurut salah satu pendapat ulama yang lebih kuat, karena tidak ada hadits shahih dari Rasulullah yang melarang hal tersebut.
11.   Disunnatkan menyaringkan bacaan Al-Qur'an selagi tidak ada unsur yang negatif, seperti riya atau yang serupa dengannya, atau dapat mengganggu orang yang sedang shalat, atau orang lain yang juga membaca Al-Qur'an.
12.   Termasuk sunnah adalah berhenti membaca bila sudah ngantuk, karena Rasulullah bersabda:
"Apabila salah seorang kamu bangun di malam hari, lalu lisannya merasa sulit untuk membaca Al-Qur'an hingga tidak menyadari apa yang ia baca, maka hendaknya ia berbaring (tidur)". (HR. Muslim).